Terapi Alternatif Dominasi InformasI Kesehatan di Televisi

wp-1494736080171.

Terapi Alternatif Dominasi InformasI Kesehatan di Televisi

Kecenderungan tersebut saat ini diperparah oleh informasi yang diberikan media masa baik cetak ataupun elektronik tertentu. Bahkan sampai saat ini di media televisi banyak sekali informasi kesehatan justru diberikan bukan oleh dokter tetapi oleh orang yang tidak berkompeten dalam bidangnya seperti terapi alternatif, terapi herbal ataupun ahli agama yang bergerak dalam praktisi  kesehatan. Sebenarnya sah-sah saja mereka melakukan terapi alternatif dan disiarkan oleh media televisi. Sebaiknya mereka hanya menjelaskan jasa dan produknya saja.  Tetapi sebaiknya tidak disertai konsultasi online dan pemberian informasi kesehatan yang pada umumnya informasi kesehatan yang diberikan sangat menyesatkan dan tidak benar secara medis.

Bahkan saat ini masyarakat digiring secara tidak sadar dengan informasi kesehatan yang salah dengan adanya iklan berbagai produk dan jasa kesehatan di televisi.  Bila informasi tersebut berdasarkan penelitian ilmiah yang baik dan benar maka tidak masalah. Tetapi bila terapi dan alat kesehatan tersebut tidak terbukti benar manfaat bagi kesehatannya maka dapat menyesatkan dan menipu konsumen yang tidak paham akan kesehatan. Sebenarnya tidak salah terapi alternatif atau iklan sa medis lainnya di media masa. Tetapi sebaiknya bukan dengan slogan yang tidak benar yang dapat menipu dan menjeeumuskan masyarakat hanya demi kepentingan bisnis.

Terapi medis atau terapi alternatif

  • Sumber kontroversi informasi itu sebenrnya karena sumber yang berbeda yaitu dari sumber informasi kesehatan alternatif dan medis. Perbedaan ini tidak pernah akan berakhir karena masing-masing pihak menggunakan pola pemikiran yang berbeda. Di bidang ilmu kesehatan sering dibedakan antara terapi medis dan terapi alternatif. Terapi medis adalah penatalaksanaan atau pengobatan suatu penyakit atau kelainan yang berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. Penanganan di dalam ilmu kedokteran harus berdasarkan berbagai latar belakang ke ilmuan kedokteran seperti imunopatobiofisiologis atapun secara biomolekular. Dalam penerapannyapun harus berdasarkan penelitian medis berbasis pengalaman klinis.
  • Secara ilmiah berbagai terapi yang diberikan juga harus berdasarkan pengalaman klinis dengan berbasis pada penelitian ilmiah yang terukur. Dalam kurun waktu terakhir ini pemberian pengobatan di bidang kedokteran sudah beralih ke arah Evidance Base medicine (EBM) atau pengalaman klinis berbasis bukti. Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan
  • Sedangkan terapi alternatif adalah berdasarkan pendekatan pengobatan tradisional turun temurun baik dari mulut kemulut berbagai pengalaman diperoleh dari warisan nenek moyang yang tidak berdasarkan kaidah ilmiah atau bertentangan dengan ilmu kedokteran. Meskipun sebenarnya tidak semua terapi alternatif tidak bermanfaat. Saat ini ada juga terapi alternatif yang mulai disinergikan dengan terapi di bidang ilmu kedokteran seperti terapi akupuntur. Hal seperti inipun harus melalui proses penelitian secara ilmiah yang berlangsung lama, dan memang terbukti secara klinis.
  • Terapi atau alat diagnosis alternatif meskipun tidak berdasarkan kaidah ilmiah juga banyak dilakukan oleh profesional medis di bidang kedokteran seperti dokter, terapis dan lain sebagainya. Secara aspek legal dan secara etika kedokteran sebenarnya hal tersebut tidak dilazimkan karena akan menyimpang dari kompetensi dan profesionalitas seorang dokter.
  • Terdapat perbedaan mendasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan terapi medis dan terapi alternatif. Di bidang medis alat ukur keberhasilan medis harus berdasarkan penelitian terukur dan sahih secara statistik. Misalnya dalam penggunaan obat asma, harus diketahui tingkat keberhasilan dari 100 pemakai sekitar 80 yang berhasil dengan memperhatikan dengan cermat berbagai faktor yang mempengaruhi pengobatan tersebut.
  • Sedangkan terapi alternatif, biasanya diukur berdasarkan pengakuan orang perorang dalam menentukan keberhasilannya. Sehingga akurasi dan validitas keberhasilannya tidak bisa diketahui secara pasti. Sering dilihat di televisi dalam acara terapi alternatif oleh seseorang bukan berlatar belakang nonmedis, bahwa pengakuan seorang sembuh karena terapi yang diberikan. Mungkin saja memang penderita tersebut berhasil dengan terapi alternatif tersebut, tetapi tidak diketahui apakah yang tidak berhasil juga lebih banyak lagi. Atau bisa saja yang diklaim sembuh adalah dengan gangguan yang ringan yang memang suatu poenyakit self limiting disease atau sembuh sendiri. Tetapi bila seorang pasien gagal dan meninggal saat melakukan terapi alternatif maka dianggap nasibnya memang demikian. Tetapi bila seorang paien meninggal didalamm penanganan dokter biasanya sering diakhir dengan ketidak puasan dan menyalahkan dokter yang merawat. Padahal sakitnya memang sudah tidak ada harapan lagi. Hal ini terjadi karena harapan terhadap dokter untuk sembuh lebih tinggi dibandingkan kepada terapi alternatif yang hanya pasrah danmerelakan apapuj yang akan terjadi. Di bidang medis seorang dokter tidak boleh menyebutkan keberhasilan pengobatan berdasarkan kesaksian keberhasilan seorang pasien tetapi harus berdasarkan penelitian sebuah jurnal kesehatan yang kredibel atau jurnal yang dapat diakses di pubmed secara online.

Bagaimana Meyikapinya

  • Dalam berbagai kondisi globalisasi informasi tersebut sebaiknya masyarakat harus cerdas dalam mencari informasi dan mencerna informasi. Bila salah dalam mendapatkan informasi yang tidak benar secara ilmiah dan salah dalam menginterpretasikan maka akan mendapatkan informasi kesehatan yang menyesatkan. Kontroversi informasi kesehatan seringkali ditimbulkan oleh opini seseorang praktisi kesehatan baik praktisi terapi alternatif, dokter atau bahkan seorang dokter yang ahlipun bila tidak berdasarkan penelitian ilmiah. Bahkan opini seorang profesorpun seharusnya tidak bisa diikuti dan dijadikan pedoman bila tidak berdasarkan data penelitian ilmiah berupa Kejadian Ilmiah Berbasis Bukti atau Evidance Base Medicine.
  • Media masa sebaiknya melakukan pola pikir yang benar dalam mendapatkan informasi kesehatan. Sebaiknya dalam mengejar sumber informasi kesehatan media masa harus mencari sumber berita sesuai dengan kompetensinya. Bila mendapat informasi yang berbeda mungkin yang lebih dipercaya adalah sumber yang kompeten. Media masa seperti Kompas dan media masa nasional sejanis lainnya sebaiknya dijadikan acuan atau referensi tentang cara memberikan informasi dan edukasi kesehatan  yang baik dan benar.
  • Instusi terkait yang berwenang seperti Departemen Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia dan Persatuan Wartawan Indonesia harus peduli terhadap fenomena polusi informasi kesehatan yang semakin menyimpang tersebut. Mungkin media masa sebaiknya mempunyai seorang konsultan seorang yang berkompeten dalam kesehatan dalam program edukasi kesehatan masyarakat agar tidak salah arah.
  • Dalam menghadapi globalisasi informasi yang demikian hebat tersebut maka polusi informasi menjadi sangat besar terjadi. Dalam keadaan seperti ini masyarakat harus dituntut tidak lebih cepat percaya dan harus cermat dan cerdas dalam mencari dan mengolah informasi.  Semoga bangsa ini lebih cerdas dan arif dalam menyikapi kemajuan informasi yang demikian hebat ini demi kemajuan kesehatannya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: