Angka Kejadian Kanker Paru Di Dunia dan Indonesia

,1518828038051-13.jpg

Kanker paru-paru merupakan penyakit dengan ciri khas adanya pertumbuhan sel yang tidak terkontrol pada jaringan paru-paru. Bila tidak dirawat, pertumbuhan sel ini dapat menyebar ke luar dari paru-paru melalui suatu proses yang disebut metastasis ke jaringan yang terdekat atau bagian tubuh yang lainnya. Sebagian besar kanker yang mulai di paru-paru, yang dikenal sebagai kanker paru primer, adalah karsinoma yang berasal dari sel epitelium. Jenis kanker paru yang utama adalah SCLC (kanker paru sel kecil), atau disebut juga kanker sel gandum, dan NSCLC (kanker paru non-sel-kecil). Gejala paling umum adalah batuk (termasuk batuk darah), berat badan turun dan sesak napas.


Penyebab paling umum kanker paru adalah paparan dalam jangka waktu yang lama terhadap asap tembakau, yang menyebabkan 80–90% kanker paru. Bukan perokok mencapai angka 10–15% dari kasus kanker paru,dan kasus ini biasanya disebabkan oleh kombinasi antara faktor genetik,[4] gas radon, asbestos, dan polusi udara termasuk asap rokok pasif.[6][7] Kanker paru dapat dilihat melalui foto rontgen dada dan tomografi komputer (CT scan). diagnosis dapat dipastikan dengan biopsi[8] yang biasanya dilakukan melalui prosedur bronkoskopi atau dipandu dengan CT. Perawatan dan hasil dalam jangka panjang tergantung pada tipe kanker, stadium (tingkat penyebaran), dan keadaan kesehatan pasien secara keseluruhan, diukur berdasarkan kondisi umum.

Perawatan biasanya meliputi pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi. NSCLC biasanya ditangani melalui pembedahan, sedangkan SCLC umumnya memberikan respons yang lebih baik terhadap kemoterapi dan radioterapi.[9] Secara keseluruhan, 15% dari penduduk di Amerika Serikat terdiagnosis kanker paru mencapai harapan hidup lima tahun setelah diagnosis.[10] Secara global, kanker paru merupakan penyebab utama kematian karena kanker pada laki-laki dan perempuan, dan bertanggung jawab untuk 1,38 juta kematian setiap tahunnya, hingga tahun 2008.


Sunting


Kematian berbaku usia dari kanker trakea, bronki, dan paru-paru per 100, 000 penduduk di 2004

  no data

  ≤ 5

  5-10

  10-15

  15-20

  20-25

  25-30

  30-35

  35-40

  40-45

  45-50

  50-55

  ≥ 55

Distribusi kanker paru di Amerika Serikat

Di seluruh dunia, kanker paru merupakan kanker paling umum dari segi insiden dan mortalitas. Pada 2008, terdapat 1,61 juta kasus baru, dan 1,38 juta kematian akibat kanker paru. Tingkat tertinggi ada di Eropa dan Amerika Utara.[11] Segmen populasi yang paling mungkin menderita kanker paru adalah orang berusia di atas 50 tahun yang mempunyai riwayat merokok. Berlawanan dengan tingkat mortalitas pria, yang mulai menurun lebih dari 20 tahun yang lalu, tingkat mortalitas kanker paru wanita telah meningkat dalam dekade terakhir, dan baru saja mulai stabil. Di AS, risiko seumur hidup untuk terkena kanker paru adalah 8% pada pria dan 6% pada wanita

Untuk setiap 3–4 juta rokok yang diisap, akan terjadi satu kematian karena kanker paru. Pengaruh dari “Big Tobacco” memainkan peranan penting dalam budaya merokok. Orang muda bukan perokok yang melihat iklan tembakau punya kecenderungan untuk mulai merokok. Peran dari merokok pasif makin diakui sebagai faktor risiko kanker paru, yang memunculkan intervensi kebijakan untuk menurunkan paparan yang tidak dikehendaki para non-perokok terhadap asap tembakau orang lain.[111] Buangan dari mobil, pabrik, dan instalasi pembangkit listrik juga punya risiko potensial.

Eropa Timur mempunyai angka mortalitas tertinggi di kalangan pria, sedangkan Eropa utara dan AS mempunyai angka mortalitas tertinggi di kalangan wanita. Di Amerika Serikat, pria dan wanita kulit hitam mempunyai insiden lebih tinggi. Tingkat kanker paru saat ini lebih rendah pada negara berkembang. Dengan meningkatnya kebiasaan merokok di negara berkembang, diduga tingkat kanker ini akan naik dalam beberapa tahun ke depan, khususnya di negara Cina dan India.

Sejak 1960-an, tingkat adenokarsinoma paru mulai meningkat relatif terhadap jenis kanker paru yang lain. Hal ini sebagian disebabkan karena munculnya sigaret filter. Penggunaan filter menghilangkan partikel-partikel besar dari asap tembakau, sehingga mengurangi deposisi pada saluran pernapasan besar. Namun, perokok harus menghisap lebih dalam untuk mendapatkan nikotin dalam jumlah yang sama, meningkatkan deposisi partikel dalam saluran pernapasan kecil tempat adenokarsinoma cenderung muncul. Insiden adenokarsinoma paru terus meningkat.


Sunting

Kanker paru jarang dijumpai sebelum ditemukannya kebiasaan merokok; bahkan belum dikenali sebagai suatu penyakit khusus hingga tahun 1761. Berbagai aspek berbeda dari kanker paru dijelaskan lebih jauh pada tahun 1810. Jumlah kanker paru ganas hanya sebanyak 1% dari semua kanker yang ditemukan pada autopsi pada tahun 1878, tetapi telah meningkat 10–15% di awal 1900-an. Laporan kasus dalam literatur kedokteran hanya sebanyak 374 di seluruh dunia pada tahun 1912, tetapi kajian pada hasil autopsi menunjukkan bahwa insiden kanker paru telah meningkat dari 0, 3% pada 1852 menjadi 5, 66% pada 1952. Di Jerman pada 1929, dokter Fritz Lickint menemukan hubungan antara kebiasaan merokok dengan kanker paru, yang menjadi penyebab munculnya kampanye antirokok yang agresif. British Doctors Study, yang dipublikasikan pada 1950-an, merupakan bukti kuat epidemiologis hubungan antara kanker paru dengan kebiasaan merokok. Akibatnya, pada 1964 Surgeon General Amerika Serikat menyarankan para perokok untuk berhenti merokok.

Hubungan dengan gas radon pertama kali dijumpai di kalangan penambang di Pegunungan Ore di dekat Schneeberg, Saxony. Perak telah ditambang di sana sejak 1470, dan tambang ini kaya dengan uranium, yang disertai radium, dan gas radon. Para penambang menderita jumlah penyakit paru-paru yang tak sebanding, yang kemudian dikenali sebagai kanker paru pada 1870-an. Walaupun ada penemuan ini, penambangan tetap berlanjut hingga 1950-an, karena adanya permintaan uranium dari Uni Republik Sosialis Soviet. Radon dikonfirmasi sebagai penyebab kanker paru pada tahun 1960-an.

Pneumonektomi pertama yang sukses untuk kanker paru dilakukan pada 1933. Radioterapi paliatif telah digunakan sejak 1940-an. Radioterapi radikal, yang mulai digunakan pada 1950-an, merupakan usaha untuk menggunakan dosis radiasi yang lebih besar pada pasien kanker paru dengan stadium yang relatif awal, tetapi yang tidak cocok untuk pembedahan. Pada 1997, radioterapi dipercepat dengan hiperfraksionisasi dipandang sebagai perbaikan terhadap radioterapi radikal konvensional. Untuk kanker paru sel kecil, upaya awal dilakukan pada 1960-an saat pembedahan dan radioterapi radikal tidak berhasil. Pada tahun 1970-an, dikembangkan perawatan kemoterapi yang sukses.[

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s