Penyakit Pulmonari Obstruktif Kronis (PPOK)

wpid-wp-1446109717573.jpgPenyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK), dikenal juga sebagai, antara lain, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit saluran udara obstruktif kronis (PSUOK), adalah sejenis penyakit paru obstruktif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang kronis. Biasanya, kondisi ini akan bertambah buruk seiring dengan waktu. Gejala utamanya antara lain adalah sesak napas, batuk, dan produksi sputum/lendir.Kebanyakan penderita bronkitis kronis juga menderita PPOK. Merokok tembakau adalah sebab paling utama dari PPOK, dan juga beberapa faktor lainnya seperti polusi udara dan genetik yang turut berperan kecil. Di negara-negara berkembang, salah satu sumber polusi udara biasanya adalah api untuk memasak dan pemanas yang berventilasi buruk. Jika terpapar penyebab iritasi ini dalam jangka waktu lama, akan mengakibatkan reaksi inflamasi di paru-paru yang menyebabkan penyempitan saluran udara dan rusaknya jaringan paru yang disebut sebagai emfisema. Diagnonis ini adalah berdasarkan terbatasnya aliran udara saat diukur dengan tes fungsi paru. Berbeda dengan asma, berkurangnya aliran udara tidak membaik secara signifikan ketika dilakukan pengobatan.

PPOK dapat dicegah dengan mengurangi peluang terpapar penyebab-penyebab yang telah diketahui. Hal ini termasuk upaya untuk mengurangi rokok dan memperbaiki kualitas udara di dalam dan luar ruangan. Penanganan PPOK terdiri dari: berhenti merokok, vaksinasi, rehabilitasi, serta sering menghirup bronkodilator dan steroid. Sebagian orang ada yang merasakan perbaikan karena terapi oksigen jangka panjang atau pencangkokan paru. Bagi mereka yang mengalami periode bertambah parah akut, mungkin perlu meningkatkan penggunaan obat-obatan dan perawatan di rumah sakit.

Di dunia, PPOK mempengaruhi 329 juta orang atau hampir 5% dari populasi. Pada 2012, PPOK menjadi penyebab kematian nomor tiga, membunuh lebih dari 3 juta orang.[6] Angka kematian ini diperkirakan akan meningkat karena meningkatnya jumlah perokok dan populasi manula di banyak negara. Hasilnya adalah kerugian ekonomi sekitar 2,1 triliun dolar pada 2010.

Tanda dan gejala

Gejala paling umum dari PPOK adalah produksi sputum, sesak napas dan batuk yang produktif. Gejala-gejala ini muncul dalam jangka waktu yang lama and dan biasanya bertambah parah seiring waktu.[4] Tidak jelas apakah terdapat jenis-jenis PPOK yang berbeda. Meski sebelumnya dibagi menjadi emfisema dan bronkitis kronis, emfisema hanya merupakan gambaran dari perubahan kondisi paru dan bukan penyakit itu sendiri, dan bronkitis kronis hanya merupakan gambaran gejala yang mungkin timbul atau tidak timbul pada penderita PPOK.wpid-wp-1446109717573.jpg

  • Batuk  Batuk kronis biasanya merupakan gejala pertama yang muncul. Saat batuk berlangsung selama lebih dari tiga bulan setahun dalam lebih dari dua tahun, dikombinasikan dengan produksi sputum dan tidak ada penjelasan lain, maka itu bisa didefinisikan sebagai bronkitis kronis. Kondisi ini dapat terjadi sebelum PPOK berkembang penuh. Jumlah sputum yang dihasilkan dapat berubah dalam beberapa jam atau hari. Dalam beberapa kasus, batuk mungkin tidak muncul atau hanya terjadi sesekali dan bisa saja tidak produktif. Beberapa penderita PPOK mengira gejala-gejala ini sebagai “batuk perokok”. Sputum dapat ditelan atau dibuang, biasanya tergantung faktor sosial dan budaya. Batuk-batuk hebat dapat menyebabkan retak tulang iga atau kehilangan kesadaran secara singkat. Mereka yang menderita PPOK sering mengalami “batuk pilek biasa” yang berlangsung lama.
  • Sesak Napas  Sesak napas sering kali merupakan gejala yang dirasakan paling mengganggu. Hal ini sering kali digambarkan sebagai: “Saya membutuhkan usaha untuk bernapas,” atau “Saya tidak dapat menghirup cukup udara”. Istilah berbeda mungkin digunakan di budaya yang berbeda. Umumnya, sesak napas bertambah buruk dalam tekanan, yang berlangsung lama, dan bertambah parah seiring waktu. Pada tahap lanjutan, hal ini berlangsung saat beristirahat dan mungkin berlangsung terus menerus. Hal ini merupakan sumber dari kegelisahan dan kualitas hidup yang rendah yang dialami penderita PPOK. Banyak penderita PPOK lanjutan mengalami bernapas melalui bibir yang tertutup rapat dan tindakan ini dapat meredakan sesak napas bagi sebagian orang.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Gejala lainnya

  • Penderita PPOK mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk menghembuskan napas daripada untuk menarik napas. Sesak di dada mungkin dapat terjadi namun bukan hal yang umum dan dapat disebabkan masalah lain. Mereka yang saluran udaranya terhalang mungkin mengalami napas mengi atau suara udara masuk yang berkurang saat dada diperiksa dengan menggunakan stetoskop. Dada barel adalah tanda khusus dari PPOK, tapi bukan hal yang umum. Posisi tripoddapat terjadi saat penyakit bertambah parah.
  • PPOK lanjutan akan menjadi tekanan tinggi pada arteri paru, yang menekan ventrikel kanan jantung. Situasi ini disebut sebagai kor pulmonale, dan akan menjadi gejala pembengkakan kaki dan pembengkakan vena leher. PPOK merupakan penyebab lebih umum dari kor pulmonale dibandingkan dengan penyakit paru lainnya. Kor pulmonale semakin jarang terjadi sejak penggunaan suplemen oksigen.
  • PPOK sering terjadi bersamaan dengan beberapa kondisi lain, sebagian karena faktor risiko yang sama. Kondisi ini termasukpenyakit jantung iskhemik, tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, penyusutan otot, osteoporosis, kanker paru, gangguan keresahan dan depresi. Bagi mereka yang menderita penyakit ini secara kronis, perasaan selalu letih adalah hal yang umum. Kuku jari bengkak bukan semata-mata gejala PPOK dan harus segera diselidiki akan kemungkinan kanker paru.
  • Eksaserbasi eksaserbasi akut dari PPOK didefinisikan sebagai sesak napas bertambah parah, produksi sputum semakin banyak, dan perubahan warna sputum dari bening menjadi hijau atau kuning, atau batuk semakin parah yang dialami penderita PPOK. Hal ini dapat disertai dengan tanda-tanda bertambah besarnya usaha untuk bernapas seperti napas cepat, detak jantung cepat, berkeringat, penggunaan otot leher secara aktif, kulit membiru, serta kebingungan atau prilaku agresif pada eksaserbasi parah. Gemerisik juga mungkin terdengar dari paru-paru saat pemeriksaan dengan stetoskop.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s